Meski demikian, pertumbuhan film dokumenter di tanah air memang masih terbilang minim dibandingkan film fiksi.
“Tantangannya adalah bagaimana memproduksi konten sebanyak mungkin supaya ekosistem penontonnya juga tumbuh,” kata dia.
Namun, Dandhy mengaku film-film dokumenter yang merekam keresahan dan konflik sosial masyarakat di berbagai daerah turut memengaruhi psikologisnya.
“Pasti dampaknya ke mental ya. Kalau nggak pandai merawat mental, ya down, karena apapun yang kita lakukan akan mentok,” ujar dia.
Karya sinematografi yang diharapkan bisa menjadi bahan koreksi dan pemikiran bagi masyarakat justru yang terjadi sebaliknya. Hal ini membuat Dandhy frustasi.
Seperti film dokumenter “Sexy Killers” yang digarap pada tahun 2019 oleh Dandhy Laksono bersama Ucok Suparta.
Sexy Killers mengungkap selubung antara industri pertambangan batu bara dengan perpolitikan Indonesia saat itu, Pilpres 2019.
“Sudah aku ungkap bahwa mereka (Jokowi dan Prabowo) ini satu bohir. Tapi begitu (Sexy Killers) itu muncul, bukannya terjadi koreksi malah blak-blakan. Jadi kayak total play,” kata Dandhy.
Baca Juga: Cek Izin Stockpile Batu Bara di Lampung
Meski frustasi, dia menyadari bahwa setiap usaha memperbaiki apapun harus terus berlanjut.
“Jadi salah satu cara kita supaya nggak frustasi, jaga terus kewarasan. Agama dan sistem pendidikan saja nggak bisa bikin peradaban lebih baik, apalagi cuma bikin film,” pungkas dia tertawa.
